Comments

Tampilkan postingan dengan label Budidaya Bawang Merah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budidaya Bawang Merah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 September 2013

Cara Budidaya Bawang Merah

Memperhatikan laju pertambahan penduduk yang begitu cepat, sedangkan produksi bawang merah boleh dikatakan tidak banyak berubah, maka jelas bahwa produksi bawang ini harus ditingkatkan untuk mencukupi kebutuhan yang meningkat. Salah satu cara yaitu dengan cara budidaya bawang merah. Namun untuk membudidayakan tumbuhan bawang merah ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dipersiapkan. Hal-hal tersebut akan Pak HaBe share ke temen-temen semua secara gamblang biar sobat gak salah langkah nantinya dalam memulai pembudidayaan tumbuhan bawang merah ini.
bawang merah


A. Pengolahan Tanah dan Pembibitan
Untuk penjelasan ini sudah Pak HaBe bahas di postingan sebelumnya, sobat bisa lansung meluncur ke “Pembibitan dan Pengolahan Tanah Pada Budidaya Tanaman Bawang Merah

B. Penanaman
Setelah tanah selesai disiapkan untuk ditanami. yakni telah diberi pupuk kandang dan dihaluskan, penanaman dapat dilakukan. Umbi yang akan ditanam ujungnya dipotong sepanjang 1/3 bagian. Penanaman dilakukan pada jarak 10 x 20 cm atau 20 x 20 cm bergantung kepada ukuran bibit dan tempat bertanam. Di dataran tinggi biasa ditanam dengan jarak tanam jarang, sedangkan di dataran rendah ditanam denganjarak tanam rapat. Mula-mula lubangkecil dibuat dengan tugal kemudian umbi diletakkan dalam lubang dengan bagian ujung yang telah dipotong di atas dan tepat rata dengan permukaan tanah, selanjutnya umbi ditutup tanah tipis. Penutupan umbi jangan terlalu tebal, karena dapat menyebabkan umbi tumbuh lambat dan terganggu. Setelah umbi selesai ditanam, lebih baik disiram air supaya keadaan tanahnya menjadi lembab.


C. Pemupukan
Di samping pupuk kandang sebanyak 10 ton/ha, harus diberikan pula pupuk buatan. Pupuk kandang ini mempunyai fungsi sebagai berikut:
  1. Menyuburkan tanah dan membuat struktur tanah bergumpal (remah) hingga tanah tidak padat.
  2. Mengikat air, apabila kekurangan air (musim kemarau) dan melepaskan air apabila kelebihan (musim hujan).
  3. Mendorong mikro organisme yang berguna dalam tanah lebih aktif bekerja.
Oleh karena itu untuk tanah yang telah subur dan tanah gambut, pemberian pupuk kandang tidak sangat diperlukan. Namun pupuk buatan perlu diberi supaya umbinya besar dan kuat. Adapun pupuk buatan berupa 100 - 120 kg N, 150 kg P2O5 dan 100 kg K2O per ha diberikan sekaligus pada umur 2 minggu setelah tanam, kecuali pupuk N diberikan dua kali. Pemupukan berikutnya saat tanaman berumur 4 minggu setelah tanam. Pada tanah yang bersifat asam (pH di bawah 5) perlu ditambahkan kapur tohor 2-4 ton/ha atau batu kapur yang telah dihaluskan, supaya umbinya menjadi besar. Pupuk N dapat mendorong pembentukan umbi menjadi besar, tapi dapat pula menyebabkan pembusukan umbi.

D. Pengairan
Di luar negeri pengairan (irigasi) pada tanaman bawang merah / Bombay biasa dilakukan, tetapi di Indonesia terjadi hal sebaliknya, karena sering ditanam di tegalan atan lahan kering. Pengairan dapat meningkatkan produksi, tetapi apabila berlebihan dapat menyebabkan pembusukan umbi hingga 13,18% dibandingkan dengan nonirigasi hanya 6,6% (CELESTINO, 1961). Oleh karena itu pengairan hanya diberikan selama pertumbuhan pertanaman dan pembentukan umbi. Setelah umbi besar mendekati tua, pengairan tidak boleh diberikan lagi. Di Indonesia, pada umumnya bawang merah ditanam pada musim kemarau (bulan Mei/Juni - Agustus/September), hingga diperlukan pemberian air. Pemberian air yang diberikan secara menggenang kurang menguntungkan bagi pertanaman bawang merah, karena dapat menyebabkan kondisi tanah menjadi padat. Pemberian air dengan emrat (gembor) atau "Sprinkler" lebih dianjurkan. Pemberian air pada pagi / siang hari kurang menguntungkan bila dibandingkan dengan sore hari, karena banyak penguapan dan sedikit yang dihisap oleh tanaman bawang.

E. Penyiangan atau Pendangiran
Sebagaimana tanaman lain, tanaman bawang merah perlu didangir. Pendangiran ini dimaksudkan untuk:
  1. Menggemburkan tanah dan membetulkan bedengan yang telah rusak akibat pengairan atau curah hujan.
  2. Membersihkan rumput jahat, seperti teki, alang-alang, dan sebagainya.
Penyiangan harus dilakukan dengan hati-hati supaya akar tanaman tidak rusak. Biasanya dilakukan dua kali selama pertumbuhannya, yakni 2 - 4 minggu dan 4 - 6 minggu setelah tanam bergantung keadaan. Sambil mendangir biasanya dilakukan pemupukan pupuk buatan yang kedua (pupuk susulan).

F. Pemungutan Hasil
Pemungutan (panen) hasil umbi bawang dilakukan setelah tanaman roboh, yakni 60-90% leher batang lemas, kira-kira berumur 60-90 hari tergantung kepada varietas, tempat bertanam dan kebutuhan.
Di dataran tinggi (suhu 15-21° C) pada umumnya umur bawang lebih panjang, karena pembentukan umbi terlambat. akan tetapi di dataran rendah (suhu 25-30° C) pada umumnya umur bawang lebih pendek, karena umbinya cepat terbentuk. Dalam hal ini hasil kali antara panjang hari dan suhu, yakni hari panjang x suhu rendah atau hari pendek x suhu tinggi, merupakan faktor yang tetap dalam merangsang pembentukan umbi bawang. Untuk keperluan konsumsi biasanya umbi dipanen muda, yakni sewaktu daunnya masih hijau atau 60-70% batangnya lemas, akan tetapi untuk keperluan bibit umumnya umbi dipanen tua (80-90% batangnya temas). Umbi yang dipanen muda akan cepat menjadi keropos dalam penyimpanan, karena cepat terjadi penguapan hingga timbangan berat umbi (bobot) cepat menurun.

Panen hendaknya dilakukan pada saat keadaan tanahnya kering (tidak basah) untuk mencegah serangan penyakit busuk umbi berlendir yang disebabkan oleh bakteri Erwinia carotovora dalam gudang penyimpanan. Caranya ialah umbi dicabut pada batang yang masih ada. Apabila sukar karena tanahnya padat (keras), dapat dibantu dengan kored atau alat lainnya.

Kemudian umbi dibiarkan beberapa jam di atas bedengan dan selanjutnya umbi diikat pada batangnya menjadi ontongan. Tiap ikat beratnya berkisar antara 2 - 5 kg umbi bergantung keinginan petani sendiri. Setelah itu umbi yang telah diikat-ikat diangkut ke tempat penjemuran supaya kering. Pemanenan dan pengangkutannya harus diiakukan dengan hati-hati supaya umbi tidak rusak atau luka.

G. Penyimpanan dan Pengeringan
Untuk pembahasan materi ini bisa dilihat di postingan kemarin sobat “Proses Pengeringan dan Penyimpanan Budidaya Bawang Merah

H. Penyakit dan Hama
Sama juga nih sobat, sudah dibahas di postingan sebelumnya, langsung saja meluncur ke “Hama dan Penyakit Pada Tanaman Bawang Merah
 
Itulah sobat keseluruhan cara budidaya tanaman/tumbuhan bawang merah yang saat ini harga dipasaran lagi baik-baiknya, dan diprediksi untuk beberapa tahun ke depan harga akan semakin membaik. Jadi yang ragu-ragu untuk budidaya tanaman bawang merah ini langsung segera hilangkan dari pikiran. Take action dan segera mulailah untuk berwirausaha ;)

Hama dan Penyakit Pada Tanaman Bawang Merah

Pak HaBe akan diuraikan beberapa jenis hama dan penyakit yang sangat penting yang sering menyerang tanaman bawang merah di kawasan Indonesia.
hama dan penyakit pada bawang merah


HAMA
1. Ulat tanah atau ulat pemotong
Hama ini disebabkan oleh ulat Agrotis ipsilon HFN. Ulat ini berwarna hitam atau coklat bergantung makanannya. la dapat rusak tanaman muda dengan jalan memotong bagian pangkal batangnya. Penyerangan terjadi pada sore hari antara pukul 17.00-19.00, dan bersembunyi di dalam tanah di sekitar tanaman.

2. Hama putih atau hama bodas
Hama putih pada bawang merah ini disebabkan oleh sejenis gurem halus yang disebut Thrips tabaci Lind. Cara penyerangannya dengan jalan menggaruk dan menghisap cairan sel daun bawang tersebut. Gejala yang ditimbulkan daunnya mula-mula bernoda putih mengkilat seperti perak kemudian menjadi kecoklatan dengan bintik hitam.
Pencegahan serangan hama putih ini dengan jalan menjaga kebersihan kebun dan daerah lahan di sekitarnya dari rumput-rumputan, alang-alang dan tanaman pengganggu sejenisnya.

3. Ulat daun atau ulat bawang
Pada bawang ulat ini merusak daunnya. Telur kupu-kupu yang baru menetas segera menggiggit daunnya yang masih muda, kemudian larva tersebut masuk ke dalam daun bawang yang berbentuk pipa dan makan dari dalam. Akibatnya daun bawang berluban. Dari luar dapat diketahui dengan melihat gejala yang ditimbulkan pada daun tersebut, yakni jaringan daun menjadi bening (transparant) dan kotoran yang terdapat pada tepi daun.
 
PENYAKIT
Dalam bercocok tanam bawang merah telah dikemukakan beberapa penyakit yang biasa dihadapi oleh petani bawang di Indonesia. Di sini akan dikupas lagi beberapa penyakit penting yang berbahaya pada tanaman bawang.

1. Penyakit cekik atau "dumping off"
Penyakit ini sering menyerang tanaman muda yang ditanam dari biji sewaktu masih dipersemaian. Cendawan ini menyerang bagian tanaman di bawah tanah sampai leher batang (bagian di permukaan tanah), hingga akar dan leher batang busuk dan mengering. Kemudian tanaman akan layu mendadak tanpa memberikan gejala menguoing pada daunnya. Penyakit ini dapat ditularkan melalui biji. Pencegahannya adalah dengan memberikan perlakuan pada bijinya sebelum ditanam.

2. Penyakit mati pucuk
Penyakit ini mula-mula menyerang ujung daun hingga warnanya menguning, kemudian sel-selnya mati dan mengering. Selanjutnya gejala menjalar ke bawah sampai ± 15 cm. Bagian daun yang kering ini akhimya terkulai ke bawah sambil membentuk pilin. Penyakit ini disebarkan melalui udara, dan bersembunyi dalam tanah. Serangan dapat timbul setiap saat ketika tanaman mulai berumur 1/2 bulan.

3. Penyakit Trotot atau Downy Mildew atau Embun Upas
Penyakit ini dapat menyerang secara sistemis atau lokal dan disebarluaskan melalui udara. Tanaman yang terserang akan merana dan daunnya akan menjadi pucat serta menguning. Bila udara lembab daun yang terserang akan menunjukkan gejala bintik-bintik berwarna ungu. Bila udara kering akan menunjukkan bintik-bintik putih sedemikian rupa, sehingga daun tersebut bintik-bintik besar. Serangan ini akan timbul pada kelembaban udara yang tinggi dan suhu yang dingin, yakni antara 4-25°C.

Pada musim kemarau yang malamnya dingin dan lembab penyakit akan menyerang hebat. Pada musim hujan, serangan penyakit ini dapat menyebabkan kegagalan bagi seluruh tanaman. Pencegahan dapat dilakukan dengan pemanasan kering (dry heating) dengan suhu 41°C selama lebih dari 4 jam pada umbi-umbi bibit yang diduga mengandung penyakit embun tersebut

4. Penyakit Noda Ungu
Penyakit ini menyerang daun, tangkai bunga dan umbi bawang. Penyakit ini menyerang tanaman bawang melalui luka atau mulut kulit. dan memberikan gejala bintik lingkaran konsentris wama ungu pada pusatnya yang melebar menjadi semakin tipis dan akhirnya berwarna abu-abu pada daerah sekitarnya. Bagian yang rusak ini umumnya membentuk cekungan. Diduga penyebaran penyakit ini melalui umbi bibit dan percikan air dari dalam tanah. Gejalanya sering timbul bersama-sama dengan penyakit embun upas. Penyakit ini sulit diberantas, tetapi pada bawang merah lebih tahan daripada bawang Bombay, sehingga penyakit ini jarang ditemukan pada tanaman bawang merah.

Senin, 23 September 2013

Proses Pengeringan dan Penyimpanan Budidaya Bawang Merah

Dalam budidaya tanaman bawang merah proses pengeringan dan penyimpanan adalah hal penting yang harus dilalui, berikut Pak HaBe paparkan pembahasan untuk kedua proses tersebut:

pengeringan bawang merah

Pengeringan
Penjemuran umbi bawang merah dimaksudkan untuk menghilangkan air yang terkandung dalam kulit luar dan leher batang (bagian ujung umbi) supaya kering sedemikian rupa sehingga tidak menarik air keluar dari bagian dalam umbi itu sendiri. Dengan demikian umbi tidak akan banyak kehilangan bobotnya dan tidak akan mengerut (keropos) serta sedikit sekali kemungkinannya akan terserang penyakit busuk umbi selama penyimpanan, hingga dapat disimpan lama.

Di samping penjemuran sebetulnya masih ada suatu proses yang disebut pengeringan (curing) yang bertujuan untuk membantu perkembangan warna kulit bawang tersebut supaya mengkilat dan menarik, yakni dengan membentangkan umbi bawang pada suhu tinggi pada waktu tertentu. Akan tetapi karena pengeringan ini merupakan proses lanjutan yang dimulai sebelum umbi bawang kering benar, maka kedua proses itu sering disatukan menjadi istilah pengeringan (THOMP­SON et al.). Untuk mudahnya Pak HaBe akan digunakan dengan istilah yang telah umum ialah pengeringan. Pengeringan dapat dilakukan dengan dua (2) cara yaitu:
  1. Pengeringan tradisional (field curing); dan
  2. Pengeringan buatan (artificial curing).
Pengeringan tradisional dilakukan dengan menjemur umbi bavvang yang telah diikat (diontongi) di bawah sinar matahari pada alas anyaman bambu (gedeg). Biasanya penjemuran ini berjalan antara 1-2 minggu bergantung keadaan cuaca pada waktu penjemuran. Awal penjemuran umbinya di bawah dan daunnya di atas, kemudian setelah hampir kering posisinya dibalik umbinya di atas dan daunnya di bawah, supaya warnanya menjadi baik. Setelah umbi mencapai kadar air antara 80-85% baru disimpan di gudang.

Pengeringan secara buatan dapat dilakukan dengan panas dari kompor atau energi surya seperti yang dikembangkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Waktu dan suhu yang dianjurkan untuk pengeringan umbi bawang Bombay di luar negeri secara buatan berkisar antara 16 jam (pada suhu 46°C) sampai 14 - 17 hari (pada suhu 16 - 27°C) dengan kelembaban udara relatif 70-80% (THOMPSON et al.). Pengcringan secara tradisional memang lebih murah. akan tetapi pada musim hujan penjemuran dengan cara ini sulit dilakukan dan lama keringnya, hingga warnanya tidak menarik (kualitas rendah).

Penyimpanan
Pada umumnya petani menyimpan bawang merah yang telah kering dengan jalan menggantungkan umbi-umbi tersebut di atas tungku di dapur tempat menanak nasi, supaya mendapatkan asap udara kering. Dengan cara ini umbi bawang dapat disimpan sampai 6 bulan tanpa mengalami serangan penyakit busuk umbi. Tetapi menurut hasil penelitian Laboratorium Lembaga Penelitian Hortikultura di Jogyakarta, bawang merah itu dapat disimpan secara gantungan di dalam ruang terbuka pada suhu 26 - 29°C dengan kelembaban udara relatif 70 - 80% (HORTIKULTURA, 1982).

Di luar negeri penyimpanan bawang Bombay yang terbaik ialah pada suhu 0°C dengan kelembaban udara relatif ± 65% (tempat kering). Pada suhu 10-15°C umbi bawang akan cepat tumbuh (bertunas), yang berarti masa istirahat umbi akan menjadi pendek dan bertunasnya akan lebih cepat apabila keadaan ruang penyimpanan tersebut lembab. Sedangkan pada suhu 0°C dan 30°C umbi lambat bertunasnya. Proses penyimpanan umbi bawang ini perlu mendapat perhatian supaya:
  1. Tidak banyak kehilangan bobot;
  2. Tidak terserang penyakit busuk umbi;
  3. Tidak cepat bertunas/tumbuh.
Dalam hal ini cara pengeringan sangat berpengaruh terhadap proses fisiologis dalam gudang. Umbi yang dikeringkan secara tradisional setelah disimpan 3 bulan dalam gudang akan kehilangan bobot sampai 15%, sedangkan yang dikeringkan secara buatan kehilangan bobotnya hanya 13%. Kehilangan bobot semakin tinggi dan cepat apabila umbi dipungut masih muda, yakni daunnya masih hijau dan belum melemas.

Umbi yang luka dapat melakukan penguapan (transpirasi) secara cepat hingga kehilangan bobot dan mudah terjangkit penyakit busuk umbi dalam gudang. Oleh karena itu supaya umbi tahan lama disimpan dalam gudang, harus memenuhi beberapa persyaratan, diantaranya ialah:
  1. Umbi dipungut cukup tua.
  2. Umbi tidak boleh terluka (cacad).
  3. Umbi cukup kering (kadar air 80%).
  4. Suhu ruang penyimpanan antara 25 - 30°C dengan kelembaban udara 70 - 80%.
  5. Sirkulasi udara (aerasi) dalam gudang cukup baik.

Nah sekarang sudah tau kan sobat proses pengeringan dan penyimpanan untuk budidaya tanaman bawang merah. Hal-hal di atas harus sobat perhatikan benar-benar supaya hasil budidayanya nanti sukses besar, hehe :)

Sabtu, 21 September 2013

Pembibitan dan Pengolahan Tanah Pada Budidaya Tanaman Bawang Merah

Pengolahan tanah perlu mendapat perhatian, karena banyak tanaman bawang merah gagal sebagai akibat pengolahan tanah yang kurang baik. Pengolahan tanah mempunyai tujuan:
  1. Menggemburkan tanah, hingga tanah mempunyai struktur bergumpal.
  2. Membuang rumput jahat, seperti alang-alang, teki, mimosa dan lain-lain.
  3. Membuang gas beracun yang terjadi karena kegiatan mikroba dalam tanah.
  4. Membuat pembuangan air (drainage) yang baik.
Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan pada waktu yang tepat (tidak ada hujan) 2-4 minggu sebelum tanam. Pada awal musim kemarau, keadaan tanahnya mulai kering dan keras, tanah diolah dengan traktor atau pacul/bajak. Pengolahan tanah dilakukan agak dalam sehingga terbentuk bongkahan-bongkahan. Bongkahan tanah ini diatur rapi membentuk bedengan dengan lebar 100-120 cm, dan selokan dengan lebar 20-40 cm. Setelah olahan tanah dibiarkan kering benar, kemudian disiram air sedikit dan tanah bedengan diratakan. Setelah tanah diratakan, yakni ± 1 minggu sebelum tanam, diberikan pupuk kandang yang telah jadi sebanyak 10 ton per hektar. Selanjutnya 1 hari sebelum tanam tanah bedengan dibasahi (disiram air secukupnya) dan hari berikutnya bibit dapat ditanam. Pembahasan bedengan tanah yang kurang cukup dapat menyebabkan pembusukan bibit yang baru ditanam.

Pada tanah yang berat seperti tanah alluvial, pengolahan tanah pada waktu tanah masih basah akan sulit dikerjakan (lengket) dan menghasilkan struktur tanah yang kurang menggumpal. Oleh karena itu sebaiknya pengolahan tanah dikerjakan pada waktu tanah mulai kering. Namun pada tanah ringan seperti tanah andosol/tanah berpasir, pengolahan tanah dapat dikerjakan setiap saat.
Pembibitan dan Pengolahan Tanah Pada Budidaya Tanaman Bawang Merah


Di daerah lahan yang tanahnya berat dan sering banjir seperti di daerah Brebes, Tegal dan sebagainya, pengolahan tanah dilakukan dalam bentuk surjan dengan selokan dalam (lebar selokan 40 era dan dalam selokan 50 cm). Pembuatan surjan-surjan dengan selokan dalam pada bawang merah tidak lain untuk menciptakan:
  1. Kondisi tanah menjadi bergumpal (remah), karena gumpalan tanah olahan mengalami pengeringan.
  2. Drainage cepat, karena bedengan surjan tidak terlalu lebar, sedangkan selokannya dalam (pada musim hujan).

Tetapi pembuatan selokan yang terlalu dalam (lebih dari 0,5 meter) merupakan pemborosan. Selokan yang dalam dari bedengan surjan ini mempunyai 3 fungsi penting yaitu sebagai berikut:
  1. Sebagai tempat penampungan air yang dapat digunakan untuk pengairan apabila musim kemarau.
  2. Memberikan uap air yang teratur, hingga dapat menimbulkan kondisi lingkungan (mikroklimat) yang sejuk pada tanaman bawang merah di sekitamya.
  3. Merupakan alat pembuangan air (drainage) pada musim hujan atau kelebihan air.
Akan tetapi pada daerah lahan gambut, yakni tanah yang dipenuhi bahan organik yang berasal dari sisa-sisa pembusukan tumbuhan, pengolahan tidak boleh dikerjakan secara intensif, apalagi disertai pembongkaran karena akan menyebabkan kerusakan tanah akibat terjadinya penguraian bahan organik yang terlalu cepat. Pada daerah seperti ini pengolahan tanah jangan terlalu dalam. Sebaliknya pada tanah berat, pengolahan tanah yang terlalu dangkal, terutama apabila pengolahan tanah dengan traktor, akan menyebabkan terjadinya lapisan keras di bawah bajak traktor, hingga mengakibatkan air tanah menjadi tergenang (tidak porus). Dengan kejadian seperti ini tanaman bawang akan kerdil tumbuhnya dan rendah hasilnya. Oleh sebab itu pembajakan tanah harus dalam (lebih dari 30 cm). Keadaan air tanah yang menggenang dapat menyebabkan hal-hal berikut.
  1. Keadaan aerasi kurang baik, akibatnya tanaman kerdil.
  2. Beberapa penyakit tanah mudah menyerang akar (leher batang) tanaman bawang.
 
Bibit
Bibit merupakan pangkal dari keberhasilan tanaman. Bibit yang jelek, berkeriput, terlalu kecil, terlalu lemah akan sulit menghasilkan umbi yang diharapkan. Bawang merah diperbanyak dengan biji dan umbi, tetapi pada umumnya sampai saat ini diperbanyak dengan umbi.
Umbi yang dapat digunakan untuk bibit harus memiliki persyaratan sebagai berikut.
  1. Ukuran besar umbi 2,5-7,5 gram yakni kelas I 2,5-5 gram dan kelas II 5-7,5 gram.
  2. Telah mempunyai umur yang cukup tua di kebun (65-100 hari), tergantung juga pada varietas dan tinggi tempat bertanam.
  3. Tidak bercampur dengan varietas lain (murni).
  4. Sehat, tidak mengandung bibit penyakit dan hama. Ini berarti bibit dipungut dari tanaman bawang merah yang sehat dan cukup tua.
  5. Tidak cacat, luka atau sobek.
  6. Telah mengalami penyimpanan antara 2-3 bulan tergantung varietasnya dan tempat penyimpanannya, yang penting bibit telah mulai tumbuh, yakni apabila ujung umbi dipotong akan tampak tunasnya yang berwarna hijau.
Pada bawang Bombay, ukuran umbi bibit lebih besar, yaitu antara 10-20 gram. Sehari sebelum umbi ditanam, ujungnya dipotong sepanjang 1/3 bagian.
Pemotongan ujung umbi ini penting untuk mendorong:
  1. Umbi tumbuh merata.
  2. Banyak anakan dan daun yang terbentuk.
  3. Umbi cepat tumbuh, karena ujung umbi bersifat menghambat pertumbuhan (memperpendek masa istirahat umbi)
Bila umbi bibit terlalu besar, atau persediaan bibit tidak mencukupi, umbi tersebut dapat dibelah. Pembelahan harus dilakukan sedemikian rupa, hingga tiap belahan disertai dasar cakramnya (discus) dengan arah membujur. Tiap umbi dapat dibelah menjadi 2-4 bagian. Akan tetapi bibit belahan ini akan menghasilkan umbi yang lebih sedikit, hingga produksi lebih rendah dari pada bibit utuh.

Syarat Tumbuh Tanaman Bawang Merah

Ada 2 hal yang harus diperhatikan untuk memulai budidaya tanaman bawang merah sobat, diantaranya adalah faktor tanah dan iklim. Berikut penjelasan untuk masing-masing biar sobat gak penasaran :D
Syarat Tumbuh Tanaman Bawang Merah


Tanah
Tanaman bawang merah biasanya lebih bisa tumbuh pada tanah yang gembur, subur,  dan banyak mengandung bahan-bahan berjenis organik seperti tanah lempung berdebu atau lempung berpasir. Yang terpenting jenis tanah tersebut harus mempunyai struktur bergumpal dan keadaan air tanahnya tidak menggenang (stagnasi). Oleh karena itu pada daerah lahan yang sering tergenang atau daerah lahan yang becek harus dibuat saluran pembuangan air (drainage) yang baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 5,5 – 6,5. Dalam beberapa pustaka lain dikatakan bahwa pH tanah yang baik untuk tanaman bawang Bombay antara 6-7.

Pada pH tanah yang asam (kurang dari 5,5) garam Aluminium (Al) yang terlarut dalam tanah akan bersifat racun, hingga tumbuhnya bawang tersebut akan kerdil. Sedangkan tanah basis (pH lebih tinggi dari 6,5) garam Mangan (Mn) tidak dapat diserap (digunakan) oleh tanaman bawang, hingga umbinya kecil dan hasilnya rendah. Pada tanah gambut (pHnya lebih rendah dari 4) memerlukan pangapuran terlebih dahulu supaya umbinya besar.


Iklim
Pada umumnya tanaman bawang merah tidak tahan terhadap curah hujan yang lebat. Oleh karena itu lebih baik diusahakan pada musim kemarau, asalkan ada pengairan. Tanaman tidak senang pada daerah yang berkabut dan yang berangin kencang atau taifun, tetapi lebih senang terhadap tiupan angin sepoi-sepoi. Di daerah Cirebon dan sekitarnya tanaman bawang menjadi lebih baik, karena adanya tiupan angin kumbang yang bersifat sepoi-sepoi yang datang dari gunung. Pada musim hujan atau daerah yang berkabut, tanaman akan mengalami serangan penyakit yang berat.

Suhu udara yang baik untuk pertumbuhan tanaman bawang merah antara 25-32° C dengan iklim kering. Hal ini hanya didapat di daerah dataran rendah. Tetapi untuk bawang Bombay suhu udara yang baik adalah antara 18-20°C, yakni di dataran tinggi lebih dari 800 meter di atas permukaan laut dengan iklim lembab (kelembaban udara relatif 80-90%). Walaupun demikian bawang merah dapat ditanam di dataran tinggi dan sebaliknya bawang Bombay dapat ditanam di dataran rendah, hanya hasil umbinya lebih kecil. Di dataran tinggi umur tanaman bawang merah menjadi lebih panjang antara 0,5 - 1 bulan.

Tanaman bawang merah lebih menghendaki daerah yang terbuka, dengan penyinaran ± 70%. Apabila terlindung umbinya kecil. Sebetulnya bawang merah dan bawang Bombay termasuk ke dalam golongan yang pembentukan umbinya membutuhkan penyinaran hari panjang (lebih dari 14 jam sehari). Akan tetapi, ia toleran terhadap hari netral dengan panjang penyinaran 12 jam, walaupun hasil umbinya lebih rendah daripada ditanam di daerah yang berhari panjang.