Comments

Tampilkan postingan dengan label Budidaya Jamur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budidaya Jamur. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 September 2013

Panen dan Pascapanen Jamur Tiram Putih

Sebuah baglog dapat dipanen antara 4-8 kali, bergantung pada besarnya baglog, kandungan bibit jamur, serta lingkungan selama pemeliharaan. Keberhasilan budidaya jamur tiram putih dapat dilihat dengan menghitung nilai REB (Rasio Efisiensi Biologis). Misalnya, berat baglog adalah 1.000 gram, sementara berat jamur yang dipanen sampai baglog tidak berproduksi lagi adalah 700 gram, maka nilai BER adalah 70. Semakin tinggi, semakin baik. Begitu juga sebaliknya.
Jamur Siap Panen
Jamur Siap Panen

Pada umumnya, REB akan mencapai 100-150. Artinya, dari 1.000 gram baglog dapat menghasilkan jamur seberat 1.000-1.500 gram. Adapun berat maksimal yang dapat dihasilkan dari sebuah baglog berukuran 1.000 gram adalah 2.000 gram jamur tiram segar.

Tahapan panen sangat menentukan kualitas jamur tiram putih. Agar dapat berhasil dengan optimal dan maksimal, ada beberapa yang harus diperhatikan.

PENENTUAN SAAT PANEN 
Panen dilakukan jika bentuk dan ukuran tubuh buah jamur sudah optimal. Cukup besar, namun belum mekar penuh. Pemanenan biasanya dilakukan dua sampai lima hari sejak munculnya bakal tubuh buah jamur. Cepat tidaknya jamur mencapai ukuran optimal sangat dipengaruhi tempat. Pemanenan dapat dilakukan setiap waktu, baik pagi, siang, sore, maupun malam. Petani jamur di daerah sekitar Bandung pada umumnya memanen jamur pada pagi hari mulai pukul 06.00 sampai 06.30. Kegiatan panen biasanya bergantung pengumpul atau bandar dari pasar, namun panen pagi hari dapat menjaga jamur tetap segar.

TEKNIK PANEN
Teknik memanen atau cara memanen jamur tiram putih adalah dengan cara mencabut seluruh rumpun jamur yang ada. Panen tidak boleh dilakukan hanya dengan mengambil yang besar saja dan menyisakan yang kecil-kecil. Karena walaupun disisakan, pertumbuhannya tidak akan optimal bahkan kadangkala akan mati. Begitu pula bagian batang yang menembus baglog harus dicabut pula.
Baglog harus dibersihkan dari sisa-sisa jamur. Apabila tidak, sisa tersebut akan membusuk dan mengakibatkan baglog membusuk. Setelah dilakukan pembersihan, plastik pembungkus baglog diturunkan ke bawah guna memberikan ruang bagi bakal tubuh buah untuk tumbuh lagi.

PASCAPANEN (Setelah Panen)
Penanganan setelah panen bertujuan agar produk jamur dapat diterima pasar dengan baik. Penanganan pascapanen dilakukan sesaat setelah panen. Tubuh buah harus dibersihkan dari kotoran-kotoran yang menempel, semisal bagian baglog. Cara membersihkannya adalah dengan memotong ujung tubuh buahnya. Dengan cara demikian, kebersihan akan lebih terjaga sehingga daya tahan jamur akan lebih lama.
Produk jamur tiram putih ini tidak perlu dilakukan tindakan sortasi atau pemisahan karena pasar terutama pasar tradisional belum menghendaki demikian. Setelah dibersihkan, jamur kemudian ditimbang dan dipisah-pisah sesuai permintaan pasar. Setelah itu, jamur dikemas ke dalam kantong plastik sesuai ukuran.

PEMASARAN
Pemasaran jamur tiram putih pada umumnya bisa dilakukan di pasar-pasar tradisional. Apabila tujuannya pasar tradisional biasanya bandar sendiri yang datang dari pasar untuk mengambilnya. Pembayaran biasanya dilakukan satu bulan sekali oleh bandar.

Untuk memasuki pasar modern atau supermarket biasanya harus melalui kontrak terlebih dahulu. Pada umumnya, pasar modern lebih menuntut kualitas yang lebih baik daripada pasar tradisional
Kualitas jamur tiram putih tersebut biasanya dilihat dari warna, kemasan, kesegaran, kandungan air, ukuran jamur.

Pengendalian dan Pencegahan Hama Penyakit Pada Jamur Tiram Putih

Setiap budidaya dibidang pertanian pastilah mempunyai permasalahan dengan hama dan penyakit, tak terkecuali budidaya jamur tiram putih. Hama adalah hewan pengganggu keberadaannya menimbulkan kerusakan secara morfologi, sedangkan penyakit adalah gejala-gejala fisiologis tidak wajar yang disebabkan oleh bakteri dan virus. Keduanya dianggap mengganggu karena dapat mengurangi atau merusak produksi yang pada akhirnya merugikan secara ekonomi.

1. HAMA
Hama yang menyerang jamur dapat dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama menyerang baglog dan kelompok kedua menyerang tubuh buah jamur itu sendiri. Hama yang menyerang baglog terdiri atas rayap, lalat, cacing, tikus, dan celurut. Tau celurut gak sobat?? Anaknya tikus itu loh, tikus kecil, atau biasa juga dikenal dengan sebutan tikus curut.
Hama penyakit pada jamur tiram putih

Pada umumnya serangga dan cacing bersarang di dalam baglog, tikus dan celurut bersarang di sudut-sudut ruangan kumbung, sementara rayap dapat bersarang dalam baglog dan bahan kumbung, baik dalam tiang-tiang penyangga maupun rak penyimpanan.

Hama yang menyerang tubuh buah jamur umumnya dari jenis serangga, baik berbentuk kumbang maupun kutu. Hama yang paling banyak menyerang adalah kutu. Hama kutu bukan hanya menyerang jamur sejak kuncup sampai siap panen namun apabila terkena kulit manusia maka hama kutu akan mengigit dan menimbulkan rasa gatal. Para petani jamur di Jawa Barat menyebut hama kutu ini siuer.

Umumnya para petani jamur mengendalikan hama kutu ini dengan menggunakan obat pembasmi serangga atau insektisida yaitu rizotin. Obat pembasmi serangga ini menguntungkan karena dapat membatasi penyebaran hama sehingga menghentikan kerusakan. Namun, selain keuntungan terdapat juga kerugian. Adanya sisa insektisida dalam jamur akan berakibat buruk apabila termakan. Pada umumnya, petani jamur mencucinya guna menghilangkan sisa insektisida. Akan tetapi, proses pencucian ini berakibatkan jamur segar akan cepat busuk dan berubah warna.

2. PENYAKIT
Penyakit yang banyak menyerang jamur tiram putih pada umumnya disebabkan oleh bakteri dan dari jenis jamur lainnya. Penyakit-penyakit ini menyerang baik pada baglog maupun pada jamur itu sendiri. Serangan bakteri mengakibatkan jamur berlendir dan membusuk sehingga tidak dapat dijual. Sementara jenis jamur yang menyerang antara lain, Mucor, Rhizopus, Penicitlium, Aspergillus, dan sebagainya. Jamur ini bukan hanya menyerang baglog, tetapi mengakibatkan kumbung dipenuhi oleh jamur tersebut.

3. CARA PENGOBATAN / PENGENDALIAN / PENGONTROLAN
Pengendalian hama dan penyakit jamur putih tiram bertujuan untuk menghindari atau menekan kehadiran jasad penyebab hama dan penyakit dalam budidaya jamur. Dalam pengendalian hama dan penyakit, usaha pengontrolan harus dilakukan secara menyeluruh, terpadu, dan dilakukan sedini mungkin. Usaha-usaha pengontrolan ini meliputi hal-hal berikut ini:
  • Setiap baglog yang terkena hama dan penyakit harus dibuang atau dimusnahkan seawal mungkin karena dapat menjadi sumber hama atau penyakit.
  • Pengontrolan kadar air dalam baglog harus diperhatikan karena apabila terlalu banyak akan mengakibatkan tumbuhnya bibit jamur lain yang liar.
  • Sobat harus selalu membersihkan daerah kumbung dan juga peralatan yang dipakai.

Pemeliharaan Budidaya Jamur Tiram Putih

Pemeliharaan Budidaya Jamur Tiram Putih adalah tahap yang dimulai sejak pemutihan sampai baglog tidak lagi berproduksi. Apabila sobat membeli baglog siap pelihara maka pemeliharaan meliputi spawn running dan penumbuhan. Spawn running atau masa inkubasi adalah masa penumbuhan miselia jamur. Pada masa ini, jamur memerlukan kondisi tertentu. Suhu yang diperlukan untuk pertumbuhan miselia antara 22-28°C. Suhu di ruang penyimpanan harus dijaga agar tetap stabil. Tidak boleh terlalu berfluktuasi, baik siang maupun malam. Inkubasi dilakukan hingga miselia tumbuh merata menutupi seluruh permukaan baglog. Waktu yang diperlukannya antara 40 hingga 60 hari.

Jika dalam jangka waktu dua minggu tidak terlihat tanda-tanda tumbuhnya miselia jamur berwama putih yang merambat ke arah bawah, kemungkinan besar jamur tidak tumbuh. Penyebabnya dapat terjadi karena bibit jamur rusak atau baglog tersebut rusak dan perlu segera disingkirkan. Apabila penyebabnya karena bibit jamur yang rusak maka baglog dapat disterilisasi ulang, kemudian diinokulasi atau ditanam bibit jamur ulang.

PENUMBUHAN
Apabila baglog telah ditumbuhi miselia secara sempurna atau telah putih merata. Maka artinya telah siap untuk ditumbuhi (growing) tubuh buahnya. Tahap penumbuhan tubuh buah diawali dengan membuka sumbat penghalang dan cincinnya. Pada umumnya sumbat penghalang dibuat dari kapas dan sebagian baglog mengganti cincin dari plastik dengan karet gelang. Pembukaaan baglog ini pada prinsipnya bertujuan untuk memberikan oksigen (O2) yang cukup untuk membentuk tubuh buah dengan sempurna. Pembukaan dapat dilakukan dengan menyobek plastik bagian atas atau hanya dengan membuka, yaitu dengan membuka karet dan membuang kapasnya. Pemotongan penutup baglog harus dilakukan dengan pisau yang bersih dan steril.

Jamur tiram putih sudah tumbuh

Waktu yang dibutuhkan dari mulai pembukaan hingga tumbuh tubuh buah, yaitu antara satu hingga dua minggu. Biarkan tubuh buah yang sudah tumbuh selama dua sampai lima hari atau bergantung tempat. Hal ini dilakukan supaya tubuh buah mencapai pertumbuhan yang maksimum dan optimal. Segeralah memanen tubuh buah tersebut, jangan membiarkannya terlalu lama sebab jika terlalu tua kualitasnya akan turun atau kurang baik.

KEBUTUHAN AIR
Suhu lingkungan yang diperlukan pada tahap penumbuhan adalah 16-22°C dengan tingkat kelembapan 80% hingga 90%. Apabila suhu udara pada siang hari dinilai terlalu panas, siramlah dinding dan lantai ruangan dengan air. Penyemprotan dengan menggunakan knap sack sprayer atau pengkabut (lihat postingan Peralatan Pemeliharaan Budidaya Jamur Tiram) dapat menghasilkan kabut buatan untuk mendapatkan kelembapan yang diperlukan jamur. Penyemprotan tetap harus memperhatikan kelembapan karena apabila terlalu lembap maka kandungan air dalam baglog menjadi tinggi. Hal tersebut dapat mengakibatkan adanya pertumbuhan jenis jamur liar yang tidak diharapkan.

Penyemprotan dilakukan secara intensif khususnya pada musim kemarau, jika sudah memasuki musim hujan maka penyemprotan hendaknya dikurangi. Pada umumnya, para petani jamur melakukan penyemprotan dua kali sehari, pagi dan sore hari, pada musim kemarau. Pada musim penghujan hanya dilakukan penyemprotan sekali sehari, yaitu pada sore hari.

Selain kebutuhan air, pada tahap pertumbuhan jamur memerlukan oksigen sehingga pada masa ini sirkulasi udara harus diperhatikan. Bukalah jendela yang ada di samping kumbung pada siang hari menjelang sore agar kebutuhan oksigen terpenuhi. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah cahaya yang masuk ke dalam kumbung diusahakan tidak terlalu banyak sehingga diperlukan perhitungan yang cermat antara kebutuhan akan udara dengan masuknya cahaya ke dalam kumbung. Pertumbuhan tubuh buah akan baik di tempat yang teduh atau tidak terkena matahari secara langsung.

Dan itulah sobat keseluruhan Cara Pemeliharaan Budidaya Jamur Tiram Putih yang harus sobat ketahui. Sobat juga bisa browsing cara-cara lain untuk pembudidayaan ini agar referensi dan ilmu yang didapat semakin banyak.

Baglog Jamur Tiram Putih

Budidaya jamur tiram putih pada umumnya terdiri atas 6 tahap sobat, yaitu persiapan log tanam atau baglog, penyiapan bibit jamur, pemeliharaan, pengendalian hama dan penyakit, panen, penanganan pascapanen. Akan tetapi, bagi yang baru terjun di dunia budidaya jamur tiram ini sangat dianjurkan untuk tidak melakukan tahapan satu dan dua.

Membeli log tanam atau biasa dikenal dengan sebutan baglog dari petani atau perusahaan penghasil log tanam menjadi alternatif. Pembelian ini setidaknya dapat menggeser risiko kegagalan walaupun ongkos menjadi lebih tinggi.
baglog jamur tiram putih
Baglog
 Baglog umumnya diperjualbelikan oleh petani atau perusahaan penghasil log tanam. Petani atau perusahaan penghasil baglog ini biasanya adalah petani yang telah lama berkecimpungan dalam bisnis jamur. Mereka bukan hanya penghasil baglog, tetapi mereka juga menghasilkan jamur.

Ada dua macam baglog yang dijual di pasaran menurut kematangannya, yaitu baglog siap pelihara dan baglog siap panen. Baglog siap pelihara adalah baglog yang belum tumbuh miselia sedikitpun. Baglog ini memang dipesan dan dibuat untuk tujuan pemutihan/penumbuhan miselia. Pembeli harus menunggu baglognya untuk dapat berproduksi sekitar 1-2 bulan. Harganya di bawah baglog siap panen.

Adapun baglog siap panen adalah baglog yang sudah dipenuhi miselia sebanyak sekitar 90% lebih sehingga pembeli tidak perlu lagi menunggu baglog menjadi putih agar dipenuhi miselia. Pembeli langsung dapat memproduksi jamur.

Dari kedua macam baglog ini, ada keuntungan dan kerugian antara keduanya. Walaupun baglog siap panen lebih mahal, namun kegagalan akibat tidak terjadi miselia dapat ditekan karena baglog siap panen sudah dipastikan akan dapat menghasilkan. Sementara itu, baglog siap pelihara berharga murah, namun kegagalan tetap membayangi.

Beberapa petani atau perusahaan yang menjual baglog siap pelihara biasanya berani memberikan jaminan bahwa jamur dipastikan dapat berproduksi. Bahkan sebagian di antaranya berani menanggung risiko kegagalan dengan cara mengganti baglog yang gagal berproduksi dengan yang siap pelihara.

Beberapa di antaranya berani mengganti kegagalan apabila baglog yang gagalnya di atas 10%. Hal ini mengindikasikan pentingnya perjanjian awal jual beli antara petani penjual baglog dan sobat sebagai pembeli. Harga pembelian untuk baglog siap pelihara sekitar Rp 1.500,00 dan untuk baglog siap panen sekitar Rp 2.000,00. Harga tersebut biasanya sudah termasuk biaya kirim. Setelah dilakukan pengiriman hendaknya baglog langsung ditempatkan ke dalam kumbung.

Cara Budidaya Jamur Tiram Putih

Cara Budidaya Jamur Tiram Putih - Di tengah-tengah keadaan ekonomi yang kurang baik sekarang ini, apalagi semenjak harga bensin dinaikkan lagi, angka pengangguran tinggi sampai sanksi PHK yang banyak terjadi, menjadikan bisnis pertanian menjadi alternatif mata pencarian dan tentunya banyak dari mereka yang ingin terjun ke bisnis pertanian.

Di blog mini nan mungil ini akan akan Pak HaBe suguhkan salah satu alternatif untuk sobat yang ingin bergelut di dunia bisnis pertanian. Postingan-postingan artikel yang membahas Cara Budidaya Jamur Tiram Putih nantinya diharapkan semoga dapat membantu sobat membuka wawasan serta keinginan yang besar untuk memulai usaha budidaya ini.
Jamur Tiram Putih

Artikel-artikel pembahasan Cara Budidaya Jamur Tiram Putih akan Pak HaBe bagi menjadi beberapa bagian subbab sobat, diantaranya yaitu:
  1. Pengenalan Jamur Tiram Putih
  2. Peralatan Pemeliharaan, Panen, dan Pascapanen Budidaya Jamur Tiram Putih
  3. Media, Lokasi, dan Tempat Budidaya Jamur Tiram Putih
  4. Baglog Jamur Tiram Putih
  5. Pemeliharaan Budidaya Jamur Tiram Putih
  6. Pengendalian dan Pencegahan Hama Penyakit Pada Jamur Tiram Putih
  7. Panen dan Pascapanen Jamur Tiram Putih

Dari beberapa subbab postingan artikel di atas, ada bagian yang harus benar-benar sobat perhatikan yaitu Log Tanam Jamur Tiram Putih atau biasa dikenal dengan nama baglog. Pada bagian tersebut sobat dituntut untuk memiliki keahlian dan pengetahuan yang cukup, namun Pak HaBe gak mau menyesatkan sobat semua, Pak HaBe akan beri alternatif yang bisa sobat lakukan :)

Apabila sobat merasa seorang pemula yang ingin mencoba berbisnis di dunia budidaya jamur tiram putih ini, tetapi tidak menginginkan kegagalan, sobat tidak perlu direpotkan untuk membuat baglog dan menyiapkan bibit jamurnya. Sobat hanya perlu membeli log tanam atau baglog yang telah diberi bibit dari pengusaha log tanam. Pengusaha baglog biasanya adalah petani yang memang telah terjun cukup lama di bisnis jamur dan telah berpengalaman membuat sendiri baglog tersebut.

Jika sobat berpikir, pastilah keuntungan yang didapat tidak akan sebesar apabila sobat membuat baglog sendiri, maka sobat tidak perlu kuatir mengenai keuntungan yang akan sobat peroleh walaupun ada beberapa tahap yang dihilangkan dan digantikan dengan tahapan yang lain, namun keuntungannya tetap dapat sobat rasakan.

Perlu sobat ketahui sebagian petani jamur yang telah sukses, memulai usaha jamur mereka dengan membeli baglog dari petani lain yang telah sukses atau membeli dari pihak lain, seperti dari pusat pengembangan dan penelitian pertanian baik negeri, swasta, maupun pihak universitas. Jadi, sobat tidak perlu ragu untuk memulai usaha budidaya jamur ini dengan tahapan yang sama dengan mereka.

Pertanyaan yang mungkin muncul kemudian adalah mengapa jamur tiram putih? Jamur adalah tanaman yang dianggap makanan para dewa, jamur pun mempunyai khasiat yang menyehatkan bagi tubuh. Hal tersebut dikarenakan kandungan gizi yang terdapat dalam jamur cukup baik. Dari penelitian, rata-rata jamur mengandung 20%-36% protein dan mengandung kurang lebih 10 dari 19 asam amino yang dikenal.

Selain itu bagi sobat yang baru terjun di bisnis pertanian, tidak perlu membayangkan akan berpanas-panasan di terik matahari dan berkotor-kotor dengan mencangkul dan membajak tanah pertanian, seperti yang dilakukan pada budidaya pertanian lainnya karena jamur tiram putih adalah jenis jamur kayu, yang tumbuh pada kayu bukan tanah dan dibudidayakan di dalam sebuah bangunan.

Jamur tiram putih adalah termasuk jenis jamur yang banyak diproduksi. Hal tersebut memperlihatkan jamur tiram putih lebih mudah dibudidayakan dan tentunya lebih mudah dipasarkan. Rasanya yang enak, seperti rasa daging ayam pelan-pelan menjadi menu favorit keluarga. Mungkin saja hal tersebut dapat menjadikan jamur sebagai pengganti daging ayam. Bagaimana? Sudah siap untuk Budidaya Jamur Tiram Putihnya??

Media, Lokasi, dan Tempat Budidaya Jamur Tiram Putih

Salah satu hal yang paling diperhatikan dalam budidaya jamur tiram putih adalah pemilihan media, lokasi, dan tempat budidaya. Jamur memerlukan kondisi lingkungan yang sesuai agar tumbuh optimal, di antaranya adalah suhu, kelembapan, dan cahaya. Lingkungan tumbuh jamur tiram putih (Pteurotus ostreasus) mencakup juga ketinggian tempat. Lokasi ideal untuk budi daya jamur tiram adalah ketinggian antara 300 - 1.200 m dpl dan yang paling baik adalah ketinggian di atas 700 m dpl.

Jamur tiram putih termasuk jamur kayu, tempat hidupnya menempel pada kayu atau tumbuh dengan media kayu. Maka dari itu, media pertumbuhan jamur tiram sebaiknya dibuat menyerupai kondisi tempat tumbuh jamur tiram di alam. Serbuk gergaji dari limbah penggergajian kayu yang biasanya tidak terpakai dapat dimanfaatkan karena kecocokannya. Hal tersebut tentunya menjadi nilai tambah budidaya jamur kayu.

Bahan utama yang digunakan untuk media dalam budidaya jamur tiram putih:
  • Bekatul sebagai sumber lemak, karbohidrat, dan juga protein
Bekatul

  • Serbuk gergaji
Serbuk Gergaji

  • Gips yang digunakan untuk bahan penambah mineral dan untuk mengkokohkan media
Gips

  • Kapur (CaCO3) sebagai sumber mineral dan pengatur pH media
Kapur CaCO3


Ada beberapa komposisi campuran media yang digunakan sobat. Campuran komposisi medianya adalah serbuk gergaji sekitar 80%, bekatul sekitar 16%, untuk kapur atau CaCO3 sekitar 2%, dan gips berkisar 2%. Sedangkan untuk kadar air media, sobat bisa atur kisaran 55-70%, caranya yaitu dengan menambahkan air bersih. Hati-hati dalam penambahan air ini sobat, jika air yang ditambahkan terlalu sedikit, penyerapan makanan yang dilakukan oleh jamur akan kurang optimal akibatnya jamur menjadi kurus. Namun jika air yang sobat tambahkan terlalu banyak maka membuat akar jamur menjadi busuk.
Jadi sekali lagi Pak HaBe beritahukan berhati-hati dalam penambahan air.

Jika sobat sudah mengetahui komposisi dalam membuat campuran medianya, sekarang masuk ke rak penyimpanannya nanti. Salah satu keunikan dalam budi daya jamur putih ini adalah pemakaian rak bertingkat sebagai tempat penyimpanan log tanam. Penggunaan rak penyimpanan yang bertingkat membuat semakin tingginya kapasitas penyimpanan. Rak penyimpanan hendaknya menggunakan bambu tua agar tidak cepat rusak apabila ditanami jamur. Rak penyimpanan ditempatkan pada dasar bangunan, dengan alas bata merah atau alas lain yang dapat menyerap air.

rak penyimpanan jamur tiram putih

Ada beberapa macam rak penyimpanan menurut cara menyimpan jamur, yaitu cara vertikal dan horizontal. Menurut sebagian petani jamur, cara horizontal dapat membuat produksi jamur lebih tinggi. Akan tetapi di lain pihak belum ada penelitian yang dapat membenarkan hal tersebut. Dilain pihak, cara penyimpanan log tanam secara vertikal lebih tinggi kapasitas penyimpanannya dibanding cara horizontal, namun yang pasti adalah lebih bertingkat rak penyimpanan maka lebih besar kapasitas log tanam yang dapat disimpan per meter perseginya

Selasa, 10 September 2013

Peralatan Pemeliharaan, Panen, dan Pascapanen Budidaya Jamur Tiram Putih

Sebelum sobat memulai budidaya jamur tiram putih, ada beberapa hal yang harus disiapkan. Salah satunya yaitu peralatan. Karena sesuai penjelan Pak HaBe di awal bahwa tidak adanya tahapan pembuatan log tanam dan pembibitan jamur tiram putih, peralatan bagi seorang yang baru berkecimpung di dunia budidaya jamur ini tentunya tidak banyak, tidak rumit, serta tidak memerlukan banyak biaya.

Peralatan yang diperlukan dalam budidaya jamur tergolong sederhana dan mudah didapat. Peralatan tersebut Pak HaBe bagi menjadi tiga bagian, yaitu peralatan pemeliharaan, peralatan panen, dan peralatan pascapanen.

A. Peralatan Pemeliharaan
Peralatan untuk pemeliharaan budidaya jamur tiram putih menjadi salah satu faktor keberhasilan budi daya jamur. Beberapa peralatan yang dibutuhkan tersebut sangat sederhana. Bagi pemula peralatan tidak menjadi hambatan. Peralatan pemeLiharaan terdiri atas:
  • Knap sack sprayer atau alat semprot yang berfungsi sebagai alat penyiram air untuk kebutuhan jamur, dapat juga dipakai untuk menyemprotkan air sehingga dapat membentuk kabut.
alat semprot

  • Selang yang berfungsi sebagai alat penyiram sekitar bangunan.
 selang air

  • Pompa air yang fungsinya adalah sebagai alat pemompa air untuk kegiatan penyiraman dan pembersihan.
pompa air


B. Peralatan Panen
Selain pada masa pemeliharaan, pada waktu panen pun memerlukan peralatan. Peralatan yang ada dan fungsional menjadi faktor yang tidak kalah pentingnya untuk kelancaran saat memanen. Peralatan panen yang diperlukan terdiri atas:
  • Sarung tangan yang fungsinya sebagai pencegah kontak lansung antara tangan dan jamur ketika panen
sarung tangan

  • Pisau atau gunting yang bisa digunakan untuk memotong jamur dan plastik pembungkus log tanam.
pisau
  • Keranjang plastik yang berfungsi tempat penyimpanan jamur yang telah dipanen.
keranjang plastik


C. Peralatan Pascapanen
Sebagai bagian dari tahap proses budidaya jamur tiram putih, dalam tahap pascapanen diperlukan juga peralatan khusus. Peralatan pascapanen terdiri atas:
  • Timbangan yang mempunyai fungsi sebagai alat penimbang berat hasil panen jamur.

timbangan

  • Kantong plastik yang berfungsi sebagai pembungkus jamur.

kantong plastik


Apakah sobat kesusahan mencari peralatan untuk budidaya  jamur tiram di atas? Tentunya enggak donk. Sekarang Pak HaBe kasih waktu dulu buat sobat ngumpulin alat-alat di atas sebelum masuk ke materi selanjutnya. Dalam hitungan ke tiga harus terkumpul semua. Satu, dua, tigaaaaaaaaaa.. hayoooo mana?? haha.

Pengenalan Jamur Tiram Putih

Pengenalan Jamur Tiram Putih - Jamur merupakan salah satu tumbuhan unik yang memperkaya keanekaragaman jenis makhluk hidup dalam dunia tumbuhan. Jamur tidak mempunyai klorofil, zat hijau daun untuk fotosintesis sehingga menjadikannya bergantung kepada makhluk hidup lain baik yang masih hidup ataupun yang sudah mati. Karena itu jugalah jamur memegang peranan penting dalam proses alam, yaitu menjadi salah satu dekomposer unsur-unsur alam.

Jamur bentuknya bermacam-macam, dari bentuk hanya terdiri atas satu sel, seperti pada ragi kue, bentuk serat atau miselia pada jamur tempe, bentuk tubuh buah misalnya jamur kancing, bentuk bilah, sampai berbentuk seperti karang atau sering disebut tiram.

Jamur Tiram Putih

Tidak semua jamur dapat dimakan sobat, beberapa di antaranya beracun dan dapat membahayakan serta memabukkan apabila termakan, misalnya jamur kikik. Beberapa jamur dikategorikan sebagai penyebab penyakit atau dianggap gangguan bagi kesehatan tubuh baik itu untuk hewan, manusia ataupun tumbuhan.
Jamur tiram merupakan salah satu jamur pangan. Artinya, jamur yang dapat dimakan karena memang rasanya yang enak dan lezat. Bukan hanya di Indonesia, melainkan hampir di seluruh dunia, jenis jamur tiram ini terdapat dalam menu makanan.

A. Asal Usul dan Penyebaran
Hampir setiap negara di dunia memiliki tumbuhan jenis jamur tiram ini. Jamur tiram dikenal oleh bangsa Jepang dengan sebutan shimeji atau hiratake. Sementara bangsa Eropa dan Amerika lebih mengenal jamur tiram dengan sebutan Abalone mushroom atau oyster mush­room. Bangsa Mesir di Benua Afrika telah mengenal jamur sejak zaman raja Firaun.

Tidak ada sejarah pasti apakah jamur tiram datang ke Indonesia dibawa dari luar atau memang asli dari kawasan Indonesia. Namun, keberadaan jamur tiram dapat ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Indonesia mempunyai daerah pegunungan yang tersebar di seluruh wilayahnya. Daerah pegunungan yang sejuk inilah yang menjadi tempat yang mudah untuk menemukan jamur tiram. Jamur tiram dapat ditemukan di daerah pegunungan Sumatra, daerah pegunungan di Jawa sampai daerah pegunungan di Bali.

Pembudidayaan jamur tiram secara intensif, kali pertama dilakukan pada tahun 1900 oleh bangsa Jepang. Di Indonesia pembudidayaan baru dilakukan pada awaL 1990. Pembudidayaan biasanya dilakukan dengan media tanam serbuk gergaji. Dipilihnya serbuk gergaji karena kelimpahannya sebagai hasil limbah produksi peralatan dari bahan kayu semisal funiture.

B. Klasifikasi dan Morfologi Jamur Tiram
Jamur tiram memiliki tudung atau cap yang berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung dan memiliki warna yang bermacam-macam dari hitam, abu-abu, cokelat hingga putih dengan permukaan yang hampir licin dan lunak dengan diameter 5-20 cm. Tepi tudungnya mulus, namun sedikit berlekuk. Pada bagian bawahnya memiliki bilah yang mencapai tepi, tersusun rapat, dan berwarna kekuningan.

Seperti halnya jenis jamur lain, jamur tiram terbentuk dari spora. Sporanya berbentuk batang. Kemudian, spora membentuk miselia yang berwarna putih dan bisa tumbuh dengan cepat. Setelah itu, terbentuklah primorida atau bakal tubuh buah dan membesar sehingga membentuk tubuh buah.

Tubuh buahnya memiliki batang yang berada di pinggir (bahasa Latin: pleurotus) dan bentuknya, seperti tiram (ostreatus), sehingga jamur tiram mempunyai nama binomial Pteurotus ostreatus. Jamur tiram masih satu kerabat dengan Pleurotus eryngii atau King Oyster Mushroom.

Di alam bebas, jamur tiram bisa dijumpai hampir sepanjang tahun di hutan pegunungan daerah yang sejuk. Tumbuh pada ranting dan kulit kayu yang telah mati. Tubuh buahnya terlihat saling bertumpuk di permukaan batang pohon yang sudah melapuk atau pokok batang pohon yang sudah ditebang. Hidupnya saprofit atau bergantung pada tanaman lain, cenderung ditemukan mengelompok. Jamur tiram diketahui juga dapat membunuh dan mencerna nematoda yang kemungkinan besar dilakukan untuk memperoleh nitrogen.

C. Jenis-Jenis Jamur
Ada berbagai jenis jamur kayu yang dapat dibudidayakan dengan media tanam serbuk gergaji, antara lain jamur tiram (Pleurotus ostreasus), jamur abalone (Pleurotus abatonus), jamur kuping (Auriculariapolytricha), dan lingzhi (Ganoderma lutidum). Keunggulan jamur kayu dibandingkan sayuran lain adalah kandungannya tidak akan hilang jika dipanaskan atau dicampur bahan lainnya.

Jarum tiram merupakan jamur yang banyak jenisnya. Jamur tiram putih hanyalah satu dari sepuluh jenis jamur tiram yang dikenal. Perbedaan antara jenis satu dengan lainnya adalah dari warna tubuh buahnya, mulai dari putih, kecoklatan, keabu-abuan, dll.